Sekretariat STTS

SEKOLAH TINGGI THEOLOGI SUNEIDESIS

Sekretariat:

Komplek Pertokoan Pulomas Blok XI/2 Jl. Perintis Kemerdekaan Jakarta Timur

e-mail: conscience.foundation@hotmail.com Telepon: 021-93555867, 082122715676

Rabu, 11 September 2013

KEPEMIMPINAN KRISTEN



KEPEMIMPINAN KRISTEN 




Makna Filosofis Kepemimpinan
 
Kita mendapatkan beragam pengertian kepemimpinan. Beberapa tokoh-tokoh kepemimpinan menjelaskanya dengan sudut pandang dan penekanan yang berbeda, namun semuanya dapatlah dikatakan selalu memiliki esensi yang sama. Kita akan selalu bertemu dengan kata pemimpin, situasi kepemimpinan, serta orang yang dipimpin.

Kepemimpinan Kristen adalah suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus) yang didalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umat-Nya (dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan-Nya (yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan, dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umat-Nya untuk kejayaan kerajaan-Nya.[1]

Pada prinsipnya, sama dengan kepemimpinan secara umum, kepemimpinan Kristen adalah sebuah proses terencana yang dinamis. Namun ada pengkhususan dalam konteks kepemimpinan kristiani karena proses dan dinamikanya adalah merupakan rencana dan campur tangan Tuhan. Hal ini memberi arti bahwa Kepemimpinan Kristen adalah inisiatif dan campur tangan Allah dalam sejumlah proses dan dinamikanya. Ini seharusnya menjadi satu peringatan jelas bahwa kepemimpinan yang kristiani akan selalu diwarnai dengan pengakuan akan adanya rencana dan campur tangan Tuhan atasnya. Secara sederhana, kita dapat menjelaskan bahwa kepemimpinan Kristen merupakan suatu kepemimpinan yang merupakan inisiatif dan campur tangan Tuhan sehingga kepemimpinan ini akan selalu mengacu kepada prinsip-prinsip yang termuat dalam Alkitab.

Karena kepemimpinan kristiani adalah merupakan rencana dan didalamnya ternyata campur tangan Allah, maka sejatinya Tuhanlah yang berdaulat memilih pemimpin Kristen. Tuhanlah yang memilih bagi kemuliaan-Nya seorang pemimpin dan memperlengkapinya (melalui proses pembentukan kepemimpinan) dengan segenap kapasitas untuk memimpin. Kita mengerti bahwa tanpa campur tangan Allah, maka kepemimpinan yang terbentuk akan menjadi kepemimpinan sekuler yang “timpang” dan “berbahaya”. Timpang karena akan cenderung mengadobsi dalil-dalil kepemimpinan duniawi yang sudah pasti akan berdampak buruk bagi dan dalam dinamika serta situasi kepemimpinan yang ada.

Dalam Kepemimpinan Kristen, tujuan Allah adalah dasar utama yang menjelaskan untuk apa gereja (umat-Nya) ada yang di atasnya tujuan umat Allah di bangun. Penting untuk memahami bahwa secara filosofis, Allah yang memilih bagi-Nya seorang pemimpin, memiliki suatu tujuan yang pasti yaitu bagi kemuliaan nama-Nya dan kejayaan Kerajaan-Nya. Ketika sebuah kepemimpinan dibentuknya, indikasi yang kuat adalah bahwa nama-Nya dimuliakan dan Kerajaan-Nya ditegakkan.

J. Oswald mengatakan kepemimpinan adalah pengaruh. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang. Ini adalah tentang mempengaruhi seseorang untuk alasan yang bermanfaat. Ini tidak tergantung pada jabatan atau posisi. Ini adalah tergantung pada seseorang menangkap sebuah visi dari Tuhan, dan mempengaruhi orang lain untuk bergabung dengan mereka dalam penggenapannya. Ketika hal itu terjadi, kepemimpinan timbul dalam bentuk yang murni. Hal ini terjadi pada setiap organisasi pada titik yang satu atau yang lain. Khususnya bila tidak ada sistem atau rencana. Tidak ada harapan akan kemajuan. Seorang pemimpin harus menerima hak untuk memimpin dan yang lain memilih untuk mengikut.[2]

Sementara itu, Ken Blanchard mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi. Setiap kali Anda memengaruhi cara berpikir, perilaku, atau perkembangan orang menuju pencapaian suatu tujuan dalam kehidupan pribadi atau profesional mereka, Anda sedang menjalankan peran pemimpin. Kepemimpinan adalah suatu tindakan yang sama intimnya seperti kata-kata bimbingan dan dorongan kepada seseorang yang dicintai atau sama formalnya dengan instruksi yang melewati suatu garis komunikasi yang luas dalam suatu organisasi. Kepemimpinan bisa saja menumbuhkembangkan karakter dan rasa harga diri dalam diri anak-anak dan mendorong keakraban yang lebih besar dan pemenuhan dalam hubungan personal. Kepemimpinan itu juga menyangkut pendistribusian sumberdaya dalam suatu organisasi untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan dan tugas tertentu.[3]


KEHAMBAAN dalam Kepemimpinan Kristen

Apa yang membuat seseorang di sebut sebagai pemimpin? Apakah prestasi, tingkat sosial, kekuasaan atau penampilan? Apakah secara otomatis seseorang dapat menjadi pemimpin ketika namanya tercantum di bagan organisasi?

Yesus menjawab semua pertanyaan ini dengan pernyataan yang luar biasa. Pandangan-Nya tentang kepemimpinan ternyata berbanding terbalik dengan pandangan yang lajim di pegang oleh orang.

“ Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian diantara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk di layani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20: 25-28).

Kata memerintah dalam Bahasa Yunani berasal dari kata katakurieuosin (katakurieuosin) yang dianalisa (parsing) 3p, pl, pres, act, ind…. katakurieuw (katakurieuw).[4]

3p,       : orang ke-3 (mereka)
pl,        : plural (jamak) artinya orang lebih dari satu
pres,     : pekerjaan yang sedang dan terus menerus dilakukan
act,      : subjek melakukannya secara aktif
ind       : suatu jenis kata kerja yang menjelaskan suatu fakta kebenaran

Jadi, kata katakurieuosin (katakurieuosin) menjelaskan fakta bahwa orang-orang (para pemimpin dunia) menjalankan kepemimpinan dan terus melakukannya hingga kini secara aktif  dengan konsep memerintah.

Konsep memimpin dengan cara memerintah memang lajim dalam dunia sejak zaman purba. Memerintah dalam hal ini mengandung arti memberi komando. Terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia terjemahan baru menambahkan kata tangan besi untuk menggambarkan pola kepemimpinan memerintah ini. Kata “tangan besi” merupakan kata yang menjelaskan kata di depannya, yaitu kata memerintah. Dalam bahasa Yunani kata ini tidak ditemukan jadi adalah suatu kata yang melekat dengan kata yang dijelaskannya. Terjemahan yang paling tepat untuk kata  katakurieuosin (katakurieuosin) adalah exercise dominion over (tindakan menguasai atau mengendalikan).

Memerintah disini mengandung konotasi yang kurang baik. Hal ini dijelaskan lebih mendalam dengan kalimat ke dua dalam ayat yang sama: “pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.”   Untuk menjelaskan kalimat ini, kita harus mengerti arti kata: katexousiazousin (katexousiazousin) yang berarti: exercise authority upon (penerapan otoritas).

Apabila kita analisa (parsing), maka kata katexousiazousin memiliki kesamaan analitis dengan kata katakurieuosin (katakurieuosin).[5] Jadi kata ini menjelaskan fakta bahwa orang-orang (para pemimpin dunia) menjalankan kepemimpinan dan terus melakukannya hingga kini secara aktif  dengan menerapkan prinsif otoritas. Kata memerintah dengan otoritas yang diindikasikan dengan tangan besi (bersifat memaksa dan otoriter), adalah gambaran yang umum dalam kepemimpinan sekuler. Pola ini ternyata telah dijalankan sejak zaman purba. Raja Firaun yang memperbudak orang Ibrani ratusan tahun adalah contoh paling tepat. Raja-raja dalam Perjanjian Lama yang memerintah Israel pun, beberapa mempraktekkannya. Tetapi contoh paling bsesuai konteks adalah Pontius Pilatus. Gubernur Romawi yang menjalankan pemerintahan disalah satu koloninya dengan tangan besi ( bandingkan Kisah Para Rasul 4:27;  Lukas 3:1; 1 Timotius 6:13).

Pola kepemimpinan yang Yesus paparkan pada ayat tersebut di atas adalah dengan menawarkan dua kata yang arti dan maknanya sinonim. Pelayan dan hamba. Pelayan dari kata diakonobbs   (diakonos) dan hamba dari kata doulos (doulos).

Menurut The Analitical Greek Lexicon, kata diakonos (diakonos) berarti one who renders service to another. [6]  Prinsif inti dari kata diakonos adalah orang yang menyumbangkan (memberi) diri melayani yang lain. Memberi diri ini penting sekali dipahami sebagai sebuah tindakan sadar yang dilakukan dengan dorongan hati. Tindakan ini jauh dari keterpaksaan. Hal ini sesuai dengan pengertian dari Biblesoft's New Exhaustive Strong's Numbers and Concordance with Expanded Greek-Hebrew Dictionary: “a waiter (at table or in other menial duties)”.[7] Diakonos adalah seorang yang selalu siap sedia untuk melaksanakan tugas melayani seperti seorang waiter. Dia melakukannya dengan panggilan hati yang dengan sadar dan rela. Sekali lagi panggilan ini jauh dari keterpaksaan atau tekanan.

Kata doulos (doulos) adalah kata yang cukup sering kita dengar, namun demikian sering kita kurang memahami artinya secara mendalam. Gambaran arti kata ini dapat kita pahami sebagai berikut:[8]
  1. a slave, bondman, man of servile condition. a slave (kata benda): budak. (kata kerja):  seorang yang bekerja keras, membanting tulang (over untuk).(kata sifat): seorang pemburu-buru kerja. Bondman: penjamin. Seorang yang terjual sebagai agunan (jaminan). Man of Servile Condition: seorang yang kondisinya bersikap merendahkan diri.
  2. Metaphorically (metafora):
-          one who gives himself up wholly to another's will, (1 Korintus 7:23)
(seseorang yang memberi dirinya secara keseluruhan kepada keinginan orang lain)
-          devoted to another to the disregard of one's own interests. (Matius 20:27; Markus 10:44)
mempersembahkan kepada yang lain tanpa memperdulikan satupun
keinginannya

Jadi kalau kita tarik benang merah dari beberapa pengertian di atas, maka kata doulos (doulos) berarti seseorang yang telah terjual kepada seseorang. Ia memberikan dirinya secara keseluruhan kepada keinginan pemiliknya, sehingga ia tidak mempedulikan sama sekali kepentingan dirinya. Ia bekerja sangat keras (membanting tulang) demi kepentingan tuannya.

Menurut sabda yang disampaikan Yesus Kristus, jenis kepemimpinan yang sejati adalah pemimpin pelayan yang berhati hamba. Ia adalah seorang yang selalu siap sedia untuk melaksanakan tugas melayani seperti seorang waiter. Dia melakukannya dengan panggilan hati yang dengan sadar dan rela. Sekali lagi panggilan ini jauh dari keterpaksaan atau tekanan.

Hati seorang pemimpin adalah seorang yang memberikan dirinya secara keseluruhan kepada keinginan pemiliknya, yaitu Tuhan. Motif ini mendorong sehingga ia tidak mempedulikan sama sekali kepentingan dirinya. Ia bekerja sangat keras (membanting tulang) demi kepentingan tuannya. Yesus Kristus mengatakan, pemimpin dunia bukanlah teladan kepemimpinan Kristen, tetapi kepemimpinan Kristen harus mengakar pada dua kata yaitu seorang pelayan berhati hamba.

Yesus Kristus memiliki pandangan yang sangat jelas tentang apa yang Dia maksudkan dengan cara kita memimpin. Dia ingin kita menjadi pemimpin tidak seperti dunia memimpin. Dunia memimpin dengan melakukan apa saja untuk melanggengkan kekuasaannya, tidak peduli dengan cara apapun. Ayat di atas dengan jelas membedakan ciri-ciri kepemimpinan antara kepemimpinan dunia dengan kepemimpinan yang Yesus Kristus terapkan.



[1]  Yakob Tomatala, Pengantar Kepemimpinan, YT Leadership Foundation, Jakarta, 2008, Hal. 3
[2] John C. Maxwell, Million Leaders Mandate, Book 1, EQUIP, halaman 2
[3] Ken Blanchard & Phil Hodges, Lead Like Jesus, Visimedia, Jakarta, 2006, Halaman:5
[4] Merrill C. Tenney, A Parsing Guide to the Greek New Testament, Herald Press, Ontario, 42
[5] Ibid
[6] The Analytical Greek Lexicon, Harper & Brothers Publisher, New York
[7] Biblesoft's New Exhaustive Strong's Numbers and Concordance with Expanded Greek-Hebrew Dictionary.
  Copyright (c) 1994, Biblesoft and International Bible Translators, Inc.
[8] Thayer's Greek Lexicon, Electronic Database. Copyright (c) 2000 by Biblesoft

Sabtu, 07 September 2013

SEPULUH PRINSIP DASAR KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS



SEPULUH PRINSIP DASAR KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS
(DR. John C. Maxwell)




Yesus adalah pemimpin utama. Selama hidupNya di bumi, Ia menjadikan 3 tahun pelayananNya menjadi gerakan seluruh dunia mengubah sejarah. Hari ini, lebih banyak orang yang mengikutiNya dari pemimpin lain du muka bumi. Sebagai pemimpin teladan, Yesus mempraktekkan prinsip yang paling penting tentang kepemimpinan dan Ia menyediakannya sebagai contoh bagi kita untuk ditiru. Sebagai pemimpin-pemimpin, kita harus melakukan perjalanan yang membentuk kita menjadi seperti Kristus bahkan pada tingkat yang lebih.

1.      Kepemimpinan adalah penghambaan (Markus 8:35, Matius 20:25)
“Barang siapa terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 23:11).

Pada perjamuan akhir, Yesus membentuk penghambaan dengan mencuci kaki murid-murid termasuk Yudas Iskariot, seorang yang mengkhianatiNya. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa penghambaan dimulai dengan seorang pemimpin yang kokoh (Yohanes 13:3). Yesus mengetahui posisiNya dan dengann rela tidak memamerkannya. Ia mengetahui masa depanNya dan rela menyerah untuk hal itu.ia tidak mempunyai satupun untuk dibuktikan, tetapi tidak ada satu pun yang dirugikan, dan tidak ada satupun yang disembunyikan.

-          Yang kokoh melakukannya dengan sukarela seperti ketika Yesus membasuh kaki murid-muridNya. Yang tidak kokoh melakukannya untuk jabatan.
-          Yang kokoh memikirkan tentang orang-orang. Yang tidak kokoh memikirkan tentang posisinya.
-          Yang kokoh ingin menambahkan nilai pada orang lain. Yang tidak kokoh inginmendapatkan keuntungan dari mereka.

2.      Biarkan tujuan menjadi yang utama dalam hidupmu (Lukas 19:10, Matius 6:33)
“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya.” (Yohanes 17:4)

Dalam banyak hal, seluruh kehidupan dan pelayanan Yesus adalah tentang menyusun hal yang utama dan hidup olehnya. Ketika Ia mengatakan: “Biarkan orang mati menguburkan orang mati,” Yesus berbicara kepada mereka yang mempunyai kebutuhan agar tidak teralihkan dari sasaran yang benar dan yang paling penting, meskipun situasi-situasi yang darurat menuntut perhatian kita (Matius 8:22). Ketika temanNya, Lazarus, meninggal, Ia tetap memusatkan perhatian pada apa yang sedang dilakukanNya, dan tidak pergi untuk menjengukNya selama dua hari. Ia adalah seorang yang ada pada pelayanan (Lukas 9:51). Kepemimpinan harus dijalankan, bukan dengan pikiran manusia tapi dengan maksud tujuan yang diberikan Tuhan. Oleh karena Yesus mengembangkan hal-hal utama berdasarkan tujuanNya:

-          Ia dengan sukses mengatasi hal-hal yang mengalihkan perhatianNya
-          Ia dengan bijaksana menanggapi penolakan diriNya
-          Ia dengan rela menderita rasa sakit
-          Hal-hal utamaNya dipenuhi dengan keinginan yang besar

3.      Hiduplah dalam kehidupan sebelum anda memimpin yang lain (Lukas 7:22, Yohanes 14:11)
“Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:35)
Yesus mengajarkan kita untuk “menjadi” sebelum “melakukan”. Pada satu titik, Yohanes Pembabtis mengirim satu pertanyaan pada Yesus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang yang lain?” Yesus bisa saja menjawab dengan marah, tetapi sebaliknya, ia mengatakan: “Pergilah dan katakan kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan dengar: orang bura melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir…dan kepada orang miskin diberitakan Kabar Baik.” (Lukas 7:22).  Yesus membiarkan tindakanNya berbicara untukNya. Ia mengetahui bahwa orang akan melakukan apa yang dilihatnya, tidak selalu apa yang didengarnya.
-          Yesus tidak pernah mempertahankan pelayananNya, Ia hanya meneruskan untuk menggenapi pelayananNya.
-          Yesus tidak pernah memohon agar setiap orang mempercayaiNya, Ia mengetahui bahwa ketulusan tidak dapat dibuktikan, tetapi harus dilihat.
-          Yesus tidak menghabiskan waktu dengan mengkritik, Ia menjaga perhatianNya pada sasaranNya dan tetap fokus.
-          Yesus tidak pernah mencoba untuk kelihatan baik, Ia memang baik.

4.      Pengaruh yang kuat datang dari hubungan bukan dari posisi (Yohanes 4:5-30; 8:1-11)
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:34-35)

Yesus tahu pentingnya hubungan dengan sesama. Ia tidak menaruh sebuah tahta ditengah-tengah setiap kota danmengatakan: “Inilah istanaku. Inilah tempat satu-satunya kau dapat melihat Aku!” Ia pergi ke pasar-pasar. Ia pergi ke perahu para nelayan. Ia pergi ke rumah-rumah ibadah. Ia pergi ke rumah-rumah. Ia pergi kemana saja. Ia mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat (Lukas 9:6). Yesus membentuk kepemimpinan yang berbeda dengan yang kita lihat di dunia:

-          Yesus berjalan perlahan-lahan melewati kerumunan orang banyak
-          Yesus tidak pernah mencari jabatan atau posisi dari  orang, tetapi Ia mencari orang untuk memenuhi kebutuhan
-          Yesus mendemonstrasikan bahwa keahlian orang-orang adalah sumber yang paling penting bagi para pemimpin
-          Yesus tahu bahwa para pemimpin harus menjamah hati sebelum meminta tangannya

5.      Pemimpin harus mengisi diri mereka sendiri (Markus 3:7-10; Lukas 4:42-43)
“Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika.” (Markus 6:31)

Kehidupan menuntut. Orang menuntut. Tambah anda sukses, tambah anda memimpin, dan tambah orang menuntut anda. Mengisi diri sendiri memerlukan perhatianmu. Seringkali Tuhan Yesus meninggalkan kerumunan banyak orang dan pergi ketempat yang sunyi. Ia mengetahui bahwa waktu menyendiri bersama BapaNya di Surga memampukanNya untuk mengembalikan pandanganNya dan mengisiNya untuk menghadapi apa yang akan datang. Jika Yesus perlu mengisi diriNya sendiri, apalagi kita.

-          Hindari mengambil keputusan yang penting saat anda sedang lapat, marah, kesepian, atau letih.
-          Carilah tempat yang anda senangi dimana anda dan Tuhan dapat bertemu secara tetap
-          Seorang pemimpin yang sehat menggabungkan pikiran dan ketaatan dalam jumlah yang sama.

6.      Pemimpin yang besar dipanggil untuk suatu tanggungjawab yang besar (Yohanes 6:53, Matius 16:24)

“Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” (Markus 8:34-35)

Yesus mempunyai produk yang besar didunia ini: Keselamatan. Ia menawarkan kepda manusia kesempatan untuk dapat mempunyai hubungan dengan Tuhan. Ia berbicara soal sorga dan malaikat, sukacita dan damai sejahtera, dan tempat dalam kemuliaan. Tapi, Ia tidak pernah melukis suatu gambaran yang menyimpang.

-          Ia mengingatkan murid-muridNya akan aniaya (Matius 10:17)
-          Ia memperingatkan mereka tentang penderitaan (Matius 24:9)
-          Ia berbicara tentang kesepian (Matius 8:20)
-           
Yesus terus menerus mempersiapkan pengikut-pengikutNya menghadapi saat-saat yang sulit. Berulang-ulang Ia mengingatkan pada mereka akan aniaya yang akan datang. Beberapa dari kemarahanNya yang keras timbul ketika murid-muridNya menolak untuk memperhatikan peringatanNya tentang hari-hari sulit yang akan datang. Dan persiapanNya terbayar. Gereja mula-mula ternyata menjadi tambah kuat dibawah tantangan aniaya.

7.      Pemimpin menunjukkan rasa aman dan kekuatan ketika menangani masalah yang berat (Lukas 20:20-26, Matius 22:23-46)
“Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat." (Matius 26:44-46)

Yesus menangani masalah berat dengan cara:
-          Bangun pagi dan menerima pandangan
-          Tetap tenang selama masa sulit
-          Berbaikan dengan musuhNya dengan cepat
-          Menangani perbuatan salah dengan segera
-          Menyelesaikan apa yang sudah Ia mulai

8.      Pemimpin-pemimpin besar memimpin pada tingkat yang lebih tinggi (Yohanes 16:33, Matius 16:24)

“Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” (Matius 20:25)

Yesus memimpin pada tingkat yang lebih tinggi dari yang lain, dan terpanggil untuk tanggung jawab yang lebih tinggi dari pengikut-pengikutNya. Yesus mendemonstrasikan kepemimpinan yang tidak pernah puas dengan keadaan. Pemimpin bukan hanya bertahan, dan tetapa pada apa yang sudah jadi.  Yesus mengetahui bahwa kepercayaan datang dari menyelesaikan masalah. KepemimpinanNya melebihi dugaan yang normal. Meskipun Ia memulai hidupNya dengan kehinaan, Ia memimpin orang kepada kehidupan yang tidak pernah mereka dapatkan sendiri.

-          Yesus hidup pada tingkat yang lebih tinggi
-          Yesus mengasihi pada tingkat yang lebih tinggi
-          Yesus memimpin pada tingkat yang lbeih tinggi

9.      Pemimpin memilih dan mengembangkan orang-orang yang menjadi kunci (Lukas 10:1, Matius 10:1)
“Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil.” (Markus 3:14)

Pemimpin-pemimpin yang efektif mengetahui bahwa keberhasilan mereka dipengaruhi oleh mereka yang dekat dengannya. Mereka tidak meninggalkan masalah ini pada nasip. Mereka memilih orang yang ada dalam tim, dengan teliti memperhatikan siapa yang akan memegang peran yang menentukan dalam tim itu. Yesus tidak pernah memilih dengan ambil suara; Ia langsung memilih sendiri dalam segala hal, dan bahkan tidak tidur semalaman berdoa sebelum Ia memilih murid-muridNya. Ia menantang orang-orang untuk mengambil langkah lebih dalam lagi pada tanggungjawab demi kerajaan Sorga.

Prinsip-prinsip dari rencana Yesus dalam membangun sebuah tim:
-          Pilihan
-          Persekutuan
-          Pengudusan
-          Impartasi
-          Demonstrasi
-          Pengutusan
-          Pengawasan
-          Reproduksi

10.  Pemimpin yang besar mengetahui bahwa tidak ada keberhasilan tanpa seorang yang membuatnya berhasil (Matius 28:18-20; Yohanes 20:21-22)
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;” (Yohanes 14:12)

Hampir dari hari pertama, Yesus bersama-sama dengan para murid. Yesus memberitahukan pengikutNya bahwa Ia akan bersama-sama mereka dalam waktu yang singkat. Dari waktu ke waktu Dia mengenai terbatasnya masa yang digambarkan Yesus, tapi Ia melanjutkan mengulang dengan  mengatakan bahwa hal yang benar bila Ia pergi. Mulai dari awal Ia mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan saat Ia pergi. Ia membentuk mereka agar dapat bergantung pada Roh Kudus dan memberi pengaruh pada orang lain.
metodeNya sederhana:
-          Tetap menasehati
-          Mengevaluasi secara teratur
-          Pengharapan yang tinggi
Gagasan Yesus dalam menasehati:
-          Instruksi dalam kehidupan berhubungan dengan Firman Tuhan
-          Demonstrasi dalam kehidupan berhubungan dengan Firman Allah
-          Keterbukaan dalam kehidupan dengan Firman Allah
-          Pertanggungjawaban dalam kehidupan berhubungan dengan Firman Allah

Sumber: Materi Leadership Training Million Leaders Mandate, EQUIP. Book 1